header

About Me
Dr Eko Priatno SpB KBD - Dokter Spesialis ahli Bedah Konsultan Bedah Digestif (Bedah Saluran Cerna, Hati, Empedu Dan Pankreas) di Indonesia.
Dr. Eko Priatno, SpB-KBD adalah profesional muda yang berpengalaman dalam bidang bedah Digestif di Indonesia. Background pendidikan dan reputasinya bisa anda lihat dihalaman profil ini
Liputan TV

Bedah Digestif adalah ilmu bedah yang mengkhususkan diri pada penanganan kasus bedah pada saluran pencernaan, hati, saluran/kantong empedu dan pankreas. Seorang ahli bedah digestif merupakan dokter Konsultan Bedah ( subspesialis ) yang harus menempuh pendidikan tambahan sekitar 2 tahun setelah menyelesaikan pendidikan bedah umum. Di luar negeri, seorang dokter bedah konsultan juga harus menempuh pendidikan tambahan sekitar 2 tahun, namun sebutannya bukanlah bedah digestif, melainkan dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan organ oriented yaitu: Ahli bedah khusus Saluran cerna bagian atas ( Upper Gastrointestinal), ahli bedah khusus saluran cerna bawah ( colorectal ), dan ahli bedah khusus hati, empedu dan pankreas ( hepatopancreaticobilier/ HPB ).

Bedah Digestif

Berbeda dengan di luar negeri, di Indonesia, kasus – kasus bedah kompleks pada Upper Gastrointestinal, Colorectal dan HPB ditangani oleh seorang bedah Digestif. Jadi kasus – kasus yang umumnya ditangani oleh seorang konsultan bedah digestif mencakup:

  1. Saluran cerna atas : kasus bedah pada esofagus, lambung termasuk kanker dan non kanker.
  2. Saluran cerna bawah : kasus bedah pada kolorektal( usus besar kanker/ non kanker.
  3. Kasus bedah pada Hati, empedu dan pankreas kanker / non kanker.
  4. Kasus – kasus umum pada saluran / sistem pencernaan seperti radang usus buntu, hernia, batu empedu, obstruksi usus , kelainan pada usus halus dll

Sejarah Bedah Digestif di Indonesia

Bedah Digestif

Bedah Digestif

Pada tahun tujuh puluhan kebutuhan akan keberadaan dokter spesialis bedah yang menguasai lebih mendalam bidang bedah digestif dirasakan sangat mendesak. Kebutuhan tersebut berdasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar jenis kasus yang ditangani oleh para spesialis bedah di Indonesia adalah kasus bedah digestif. Perkembangan ilmu bedah digestif saat itu sebenarnya sudah mencapai tingkat yang cukup bermakna dalam perannya menanggulangi penyakit-penyakit atau kelainan-kelainan di saluran cerna. Sementara itu kemajuan ilmu bedah di luar negeri di sekitar kita seperti di Singapura, Malaysia, Australia, Hongkong dan Jepang, demikian juga di Eropa dan Amerika ikut memberi dampak positif dalam mendorong kemajuan ilmu bedah digestif di Indonesia. Demi menggalang kesatuan pandangan dalam konsep penerapan ilmu bedah digestif yang amat dinamis, diperlukan suatu wadah untuk menuangkan pengembangan ilmu bagi para spesialis bedah yang mencurahkan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan dalam bidang bedah digestif. Tentu saja semua itu juga bertumpu pada harapan untuk ikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Maka pada tanggal 09 Juni 1979 di Denpasar Bali, 28 orang spesialis bedah bersepakat untuk mendirikan perkumpulan yang menghimpun subspesialis bedah digestif di Indonesia. Perkumpulan itu diberi nama Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia dan disingkat menjadi IKABDI. Perkumpulan ini bertekad untuk memelihara, memupuk, meningkatkan, dan mengembangan ilmu bedah digestif untuk diamalkan demi kebahagiaan masyarakat melalui pendidikan dan pelayanan bedah digestif.

Sejak berdiri tahun 1979 hingga 1995, pengurus pusat IKABDI diketuai oleh Prof. R. Sjamsuhidajat dan dibantu oleh dokter Ibrahim Achmadsyah dan dokter Hermansyur Kartowisastro yang masing-masing bertindak sebagai sekretaris dan bendahara. Periode kepemimpinan selanjutnya pada tahun 1995-1977, ketua dijabat oleh dokter Ibrahim Achmadsyah dan dibantu oleh dokter Toar Lalisang sebagai sekretaris dan dokter Hermansyur Kartowisastro sebagai bendahara. Dewan pembina keahlian dibentuk pada tahun 1979 yang kemudian pada tahun 1991 menjadi Kolegium Ilmu Bedah Digestif. Kolegium ini dipimpin oleh Prof.R. Sjamsuhidajat dengan Prof. John Pieter dari Makassar, Prof. Aryono Djuned Pusponegoro dari Jakarta, dokter Abdus Sjukur dari Surabaya, dan dokter Warko Karnadihardja dari Bandung sebagai anggota. Pendidikan subspesialisasi bedah digestif dipusatkan di Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Makassar. Sampai dengan 2017 telah dihasilkan 160 dokter subspesialisasi bedah digestif. Ilmu bedah digestif, seperti ilmu bedah lainnya, mempunyai ruang lingkup bidang penyakit kongenital, degeneratif, kanker sistem saluran cerna, infeksi dan trauma.

Teknik Operasi Bedah Digestif

Teknik operasi bedah digestif mencapai kemajuan dengan diperkenalkannya teknik pemanfaatan alat stapler dari Rusia pada akhir tahun sembilan belas sembilan puluhan. Sampai sekarang teknik ini berkembang pesat dan dapat mempersingkat waktu operasi yang sangat berpengaruh pada hasil akhir operasi. Ilmu bedah digestif juga mencapai kemajuan dengan dikembangkannya bedah laparoskopik yang mampu memberikan sifat invasif yang minimal dengan mortalitas yang lebih rendah dan morbiditas yang lebih ringan dan lebih singkat dibandingkan bedah konvensional. Bedah laparoskopik di Indonesia dikembangkan oleh dokter Henk Kartadinata, dokter Ibrahim Achmadsyah, dokter Barlian Sutedja beserta dokter Peter Hasan di Jakarta. Mereka membentuk tim bedah laparoskopik dan berhasil untuk pertama kali melakukan kolesistektomi laparoskopik pada Februari 1991 di RS Husada-Jakarta. Selanjutnya pada bulan Desember 1993 di Bandung didirikan PBEI (Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopik Indonesia).

Operasi pada hati, pankreas dan kolorektal juga mencapai kemajuan yang pesat. Demikian juga penanggulangan operatif untuk masalah infeksi dan trauma telah berkembang pesat. Operasi bedah digestif tidak akan berhasil tanpa dukungan peri-operative critical care atau surgical critical care, karena itu di Bandung dan Jakarta dikembangkan dukungan nutrisi dan ilmunya pada fase peri-operasi. Selain itu pengertian dan penerapan damage control dan konsep triad of death (hipotermi, koagulopati dan asidosis yang tidak terkontrol) pada penanggulangan trauma maupun pada operasi elektif juga ikut dikembangkan. Penelitian pada hewan percobaan juga dikembangkan di Jakarta terutama dalam masalah penanggulangan syok hemoragik dan pengaruhnya pada tingkat seluler dan mikrosirkulasi, yang dapat mengubah tujuan dan cara resusitasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video
Gallery Foto

Pengunjung