header

About Me
Dr Eko Priatno SpB KBD - Dokter Spesialis ahli Bedah Konsultan Bedah Digestif (Bedah Saluran Cerna, Hati, Empedu Dan Pankreas) di Indonesia.
Dr. Eko Priatno, SpB-KBD adalah profesional muda yang berpengalaman dalam bidang bedah Digestif di Indonesia. Background pendidikan dan reputasinya bisa anda lihat dihalaman profil ini
Liputan TV

Kandung empedu merupakan tempat penampungan cairan empedu untuk dipekatkan agar cairan empedu yang tadinya encer menjadi pekat sehingga proses pencernaan lemak lebih sempurna. Fungsinya tidak terlalu penting dalam tubuh, sehingga tidak akan memberi dampak serius bila kantong empedu harus diangkat.

Batu empedu

Gambar 1. batu empedu

Batu empedu terjadi akibat proses pemekatan cairan empedu yang berlebihan sehingga cairan empedu yang pekat menjadi kristal- kristal empedu yang keras. Proses pemekatan empedu terjadi dalam kantong empedu, maka tidak mengherankan batu empedu umumnya terjadi dalam kantong empedu. Umumnya batu empedu berjenis batu kolesterol yang berwarna kuning. Batu jenis lainnya adalah batu bilirubin atau batu pigmen yang berwarna hitam. Bisa juga berupa batu kombinasi dari keduanya. Selama hidup, kurang lebih 20% wanita dan 10% pria akan menderita batu empedu. Faktor resiko terjadinya batu empedu, diantaranya : wanita, pemakaian terapi hormone pada wanita menopause, diet untuk menurunkan berat badan, kencing manis, diet tinggi lemak, dan obesitas. Batu pigmen empedu umumnya terjadi pada pasien kelainan darah  (haemolytic anaemia, hereditary spherocytosis ).

Masalah Yang Timbul Akibat Batu Empedu

Masalah yang dapat timbul akibat batu empedu bisa berupa kolik empedu, radang kantong empedu akut, kolesistitis kronik, ikterus ( sakit kuning ), pankreatitis akut dan kanker kantong empedu. Gejala klinis bisa berupa kolik empedu ( nyeri hebat di perut kanan atas yang tembus ke belakang ), perut kembung, cepat kenyang dan mual ( sering dianggap sakit maag ), nyeri perut kanan atas yang terus menerus, kadang disertai demam bila sudah terjadi peradangan kantong empedu ( kolesistitis akut ), mata dan kulit berwarna kuning serta kencing seperti teh bila sudah ada penyumbatan pada saluran empedu

Penanganan batu empedu umumnya diperlukan operasi berupa pengangkatan kandung empedu ( kolesistektomi ) terutama pada pasien yang menunjukkan gejala klinis seperti di atas. Dahulu, untuk melakukan operasi umumnya diperlukan sayatan lebar di perut (open kolesistektomi). Metode ini meskipun cukup efektif tapi ditemukan banyak kekurangan seperti nyeri pasca bedah yang sangat hebat, angka infeksi luka operasi tinggi, sering terjadi hernia pada bekas luka operasi ( incisional hernia ), dan tentunya lama perawatan/ pemulihan pasca bedah lebih lama.

Saat ini operasi bisa dilakukan dengan tehnik minimal invasive ( laparoskopi kolesistektomi ). Pada operasi terbuka ( open kolesistektomi ), penyembuhan lebih lama, lama rawat lebih lama serta nyerinya jauh lebih hebat maka dikembangkan tehnik operasi dengan sayatan kecil ( keys hole surgery / laparoscopy surgery ). Laparoskopi kolesistektomi telah dimulai sejak 1985, dan dalam 20 tahun terakhir, tehnik ini menjadi standar baku dalam penanganan batu kandung empedu. Pada mulanya laparoskopi kolesistektomi dilakukan dengan membuat 3-4 sayatan kecil sebesar lubang kunci ( keys hole surgery ). Akhir – akhir ini dikembangkan tehnik laparoskopi satu titik / SILS sebagai salah satu tehnik alternatif untuk meningkatkan kepuasan pasien dalam aspek kosmetis yang lebih baik ( scarless surgery ) dan meminimalkan komplikasi akibat sayatan operasi. Publikasi ilmiah mengenai tehnik ini pertamakali dibuat oleh Navarra (1997). Sejak saat itu, ide scarless surgery sangatlah populer dikalangan pasien maupun dokter.

Laparoscopy 1 titik

Gambar 2. Laparoskopi satu titik /SILS

Laparoscopy konvensional

Gambar 3. laparoskopi konvensional ( kanan)

Berbeda dengan laparoskopi konvensional yang menggunakan 3-4 sayatan kecil, pada SILS hanya dibutuhkan satu sayatan kecil. Tehnik ini memiliki kelebihan yaitu bekas luka operasi yang hampir tidak terlihat, nyeri pascaoperasi sangat minimal, masa perawatan di rumah sakit lebih singkat, lebih cepat kembali beraktifitas.

perbandingan

Gambar 4. Perbandingan luka operasi open kolesistektomi ( kiri ), laparoskopi konvensional ( tengah ) dan laparoskopi satu titik ( kanan )

One Response to Peranan Laparoskopi satu titik ( Single Incision Laparoscopic Surgery / SILS ) pada penanganan batu empedu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video
Gallery Foto

Pengunjung